readin Latihan membaca Deutsch → Bahasa Indonesia

Der Bäcker und die Münze

Tukang Roti dan Koin

A1 Sertifikat Goethe / Goethe-Zertifikat › A1 / A1 Sejarah 110 words 📅 8 September 2026

In einer kleinen Stadt backte Herr Weber Brot, das alle liebten. Doch als ein neuer König kam und neues Geld prägte, wurde alles teurer. Herr Weber kämpfte, um sein Handwerk zu retten, aber eines Tages musste er den Ofen schließen. Jahre später backt sein Sohn wieder Brot, aber mit einer Maschine. Die alten Rezepte sind verloren. Wer kann das alte Brot noch machen? Diese Geschichte zeigt, wie Veränderungen das Leben verändern können.

Kisah sederhana tentang seorang tukang roti bernama Herr Weber dan perjuangannya di tengah perubahan zaman. Dengan kosakata dasar yang diulang-ulang, cerita ini sangat cocok untuk pemula bahasa Jerman. Kamu akan belajar kata kerja lampau (Präteritum), struktur kalimat sederhana, serta kosakata sehari-hari seperti makanan, uang, dan profesi. Tapi di balik kesederhanaannya, ada perubahan besar yang mengubah segalanya. Apa yang terjadi pada roti tua yang terkenal itu? Baca terus dan temukan jawabannya sambil melatih pemahaman membacamu!

💡 Ketuk kata apa pun untuk melihat terjemahan dan pelafalan

In einer kleinen Stadt backte Herr Weber Brot. Sein Ofen war alt, aber gut. Die Leute liebten sein Brot. Jeden Morgen standen sie vor der Tür.

Dann kam ein neuer König. Er brauchte Geld für den Krieg. Er machte neue Münzen. Die alten Münzen waren weniger wert. Das Brot wurde teurer. Die Leute kauften weniger.

Herr Weber backte weiter. Er wollte sein Handwerk nicht aufgeben. Aber das Mehl war teuer. Eines Tages hatte er kein Geld mehr. Er schloss den Ofen.

Jetzt backt sein Sohn wieder Brot. Aber er benutzt eine neue Maschine. Die alten Rezepte sind verloren. Wer kann das alte Brot noch machen? Es gibt nur noch wenige.

🌐Terjemahan Lengkap dalam Bahasa Ibu
Di sebuah kota kecil, Tuan Weber memanggang roti. Tungkunya sudah tua, tetapi bagus. Orang-orang menyukai rotinya. Setiap pagi mereka berdiri di depan pintu. Kemudian datanglah seorang raja baru. Dia membutuhkan uang untuk perang. Dia membuat koin-koin baru. Koin-koin lama menjadi kurang bernilai. Roti menjadi lebih mahal. Orang-orang membeli lebih sedikit. Tuan Weber terus memanggang. Dia tidak ingin menyerahkan kerajinannya. Tetapi tepung menjadi mahal. Suatu hari, dia tidak punya uang lagi. Dia menutup tungkunya. Sekarang putranya memanggang roti lagi. Tetapi dia menggunakan mesin baru. Resep-resep lama sudah hilang. Siapa yang bisa membuat roti lama itu lagi? Hanya tinggal sedikit saja.

📝 Frasa Penting

vor der Tür → di depan pintu
Geld für den Krieg brauchen → membutuhkan uang untuk perang
weniger wert sein → bernilai lebih sedikit
sein Handwerk nicht aufgeben → tidak menyerahkan kerajinannya
kein Geld mehr haben → tidak punya uang lagi
den Ofen schließen → menutup tungku
es gibt nur noch wenige → hanya tinggal sedikit

❓ FAQ

Setelah membaca cerita ini, bagaimana cara terbaik untuk melatih kosakata yang baru dipelajari?
Kamu bisa membuat flashcards dari kata-kata penting seperti 'der Ofen', 'das Mehl', dan 'die Münzen'. Setelah itu, coba tulis ulang cerita ini dengan sudut pandang berbeda, misalnya dari sudut pandang raja atau putra Herr Weber. Ini melatih kemampuanmu menggunakan kata kerja lampau (Präteritum) dalam konteks baru. Kamu juga bisa membaca cerita ini dengan suara keras untuk melatih pelafalan, lalu rekam dan bandingkan dengan penutur asli jika ada.
Apa fungsi bentuk lampau 'backte' dan 'kam' dalam cerita ini? Bagaimana cara menggunakannya?
Bentuk 'backte' dan 'kam' adalah Präteritum (bentuk lampau sederhana) dari kata kerja 'backen' (memanggang) dan 'kommen' (datang). Präteritum sering digunakan dalam cerita tertulis, terutama narasi. Contoh dalam teks: 'In einer kleinen Stadt backte Herr Weber Brot' artinya 'Di sebuah kota kecil, Tuan Weber memanggang roti'. Kata kerja lemah seperti 'backen' mendapat akhiran '-te', sedangkan kata kerja kuat seperti 'kommen' berubah menjadi 'kam'. Perhatikan pola ini untuk memahami cerita-cerita Jerman lainnya.
Mengapa koin lama menjadi kurang bernilai ketika raja baru membuat koin baru? Apa latar belakangnya?
Ini mencerminkan praktik sejarah di Eropa, termasuk wilayah Jerman, ketika penguasa baru sering mendevaluasi mata uang untuk membiayai perang atau kebutuhan negara. Dengan mencetak koin baru yang mengandung lebih sedikit logam mulia, nilai koin lama menurun, menyebabkan inflasi. Harga barang, seperti roti, naik, sementara daya beli masyarakat turun. Cerita ini secara sederhana menggambarkan dampak kebijakan moneter terhadap kehidupan sehari-hari, yang merupakan tema yang relevan dalam sejarah ekonomi Jerman.
⚡ Tentang Artikel
Cocok Untuk
Pembelajar bahasa Jerman tingkat pemula hingga menengah (A1-B1), terutama yang ingin melatih pemahaman membaca dengan cerita pendek.
Tingkat Kesulitan
Tingkat kesulitan rendah hingga menengah. Cerita menggunakan kalimat pendek dan kosakata sehari-hari, dengan beberapa bentuk lampau (Präteritum) yang perlu dipahami.
Kosakata Inti
120 words
Fokus Tata Bahasa
Fokus utama pada penggunaan Präteritum (bentuk lampau) untuk kata kerja lemah dan kuat, serta struktur kalimat sederhana dengan konjungsi seperti 'aber' dan 'dann'.
Tujuan Membaca
Meningkatkan kemampuan membaca dan memahami cerita naratif sederhana dalam bahasa Jerman sambil memperkaya kosakata dasar.
“In einer kleinen Stadt backte Herr Weber Brot, das alle liebten. Doch als ein neuer König kam und neues Geld prägte, wurde alles teurer. Herr Weber kämpfte, um sein Handwerk zu retten, aber eines Tages musste er den Ofen schließen. Jahre später backt sein Sohn wieder Brot, aber mit einer Maschine. Die alten Rezepte sind verloren. Wer kann das alte Brot noch machen? Diese Geschichte zeigt, wie Veränderungen das Leben verändern können.”
0 kosakata · bisa juga langsung mulai tanpa kosakata